Geofisika Universitas Indonesia 2009

Ini temen-temen gue di Geofisika UI. Mereka seru-seru, lucu-lucu. Cuma kalo lagi belajar pada serius banget. Hehee.. Semoga kita semua jadi orang sukses ya temen.. Aamiin :')

Spongebob!

Spongebob itu becandanya cerdas. Lain hal, Spongebob mengajarkan bagaimana cara kita menyukai orang yang membenci, bersahabat dengan orang bodoh, dan mencintai pekerjaannya. :)

Lembah Anai

Ini gue bareng tim survey geolistrik dari Pusat Sumber Daya Geologi. Abis survey sebulanan di daerah Sumatera Barat, kita refreshing bentar. Jadi tau padang itu kayak gimana :)

Azkiya Ulya

Bayi ini yang bakal manggil gue 'Oom'. Setiap pagi sebelum ngampus, gangguin Azkia itu wajib. Bodo amat walaupun harus jadi telat kuliahnya :D

Orkestra HMD Fisika 2011

Ini Orkestra angkatan pertama. Mereka itu luar biasa. Kalo diinget-inget, bikin rindu.

Thursday, June 27, 2013

Kamu Sedang Berada di Warung Kopi

Kamu sedang berada di warung kopi
Menyeruput kopi kesukaan dengan sepiring roti bakar
Lalu ada seorang pria berbadan besar datang
Badannya besar benar, tinggi berisi
Dan kau tahu, dia preman

Ia menumpahkan kopimu dan menjatuhkan rotimu

Kamu pasti diam saja.
Tidak marah, tidak menuntut.

-----

Kamu sedang berada di warung kopi
Menyeruput kopi kesukaan dengan sepiring roti bakar
Lalu ada seorang anak kecil tanggung datang
Badannya kecil, tak sampai seketiak
Dan kau tahu, dia anak sekolah yang membolos

Ia menumpahkan kopimu dan menjatuhkan rotimu

Kamu pasti marah benar.
Mencaci maki, seraya menuntut.

-----

Ternyata pemarah itu bukan sifat.
Itu sikap, dan sikap adalah pilihan.
Kita bisa memilih mau marah, atau tidak
Kita bisa memilih mencaci maki, atau mengikhlaskan

Begitu pula dengan sikap buruk lainnya.

Pemalas, pembenci, pembohong, dan kawan-kawannya..
Itu semua pilihan yang bebas dipilih.
Hanya bergantung kepada pertimbangan kita memilih
Dan pertimbangan itu bergantung pada motivasi

Apakah ia preman berbadan besar?
Ataukah ia anak sekolah bertubuh kecil?















Seringkali gue nge-twit begini:
"Kerjaan itu kelar kalo dikerjain..."

Mungkin jika dilanjutkan:
"... Setelah memilih untuk tidak menjadi pemalas"

Mimpi Level Kesatu

Detik yang satu dan yang lainnya ga ada berhenti-berhentinya
Mereka nganterin gue ngejalanin sisa kegiatan gue di kampus.
Lelah memang. Tapi semoga berbunga indah.

Insya Allah, agustus ini gue wisuda. Aamiin.. :')

-----

Sore-sore ini bingung mau ngapain.
Otak udah kecapean gegara seharian tadi dipake belajar.
Kaget.
Ibarat motor belum dipanasin, tapi udah dibawa ngebut.

Gue jalan keluar rumah, niat ngeliat pemandangan langit sore ini.
Entah bagaimana, langitnya lebih deket, lebih pendek.
Dan gue keinget sama satu mimpi yang paling deket.
Tapi ini bukan mimpi yang pendek.

Sempet berangan kepingin kerja kreatif
Imajinasi dan kesenangan yang menguntungkan
Dan alhamdulillah, belakangan ini udah banyak ngerjain orderan.

Ada yang minta dibikinin logo
Ada yang minta dibuatin media promosi
Ada yang minta didesainin baju
Ada yang minta diciptain lagu

Gue seneng bisa ngerjain semuanya.
Tapi belum bisa professional
Tapi belum bisa serius
Tapi bukan berarti gue gamau.






















Satu nanti gue pengen ini jadi satu hal yang nyata.
Karena mimpinya sudah terlanjur dekat.
Sedekat langit sore ini.

Ini mimpi level kesatu
Mimpi yang dibuat dibawah mimpi lainnya
Ibarat anak tangga, inilah pijakan pertamanya
Menuju mimpi besar diatasnya

Saturday, May 4, 2013

Kadang Kala Bulan Menyebalkan Sekali

Aku sibuk menghitung bintang saat bulan mengintip
Kasihan bulan tak dapat perhatian
Bukannya bintang lebih mempesona
Tapi, kadang kala bulan itu menyebalkan sekali

Jangan salahkan aku jika aku terlelap
Atau memilih bersibuk dengan yang lain
Bukannya bulan malam ini tidak indah
Tapi, kadang kala bulan itu menyebalkan sekali

Kadang kala bulan itu menyebalkan sekali
Sembunyi bersama awan yang jelas-jelas asing
Kadang kala bulan itu menyebalkan sekali
Menghilang, kemudian muncul, kemudian menghilang pergi semau hati


Kau tahu?
Bukan mau bulan sembunyi
Bukan mau bulan menghilang pergi















Ruang langit malam ini kosong
Meski mata di kepala menengadah sebisanya
Sebutir angin pun tidak
Langit sepi

Ingin aku terbang mencari
Tapi sebutir angin pun tidak
Lantas aku tenggelam dalam temaram
Merindu bulan

Menyesal
Mestinya aku lebih dekat pada bulan
Bukan sibuk mencari perhatian
Dan membiarkan bulan dicuri awan



Thursday, May 2, 2013

Cerita di Awal Mei

Mayday! Mayday!

Bangun tidur kemaren itu ga biasanya gue langsung mandi. Terakhir kali gue bangun tidur langsung mandi itu waktu SD waktu mau pergi study tour ke Taman Bunga Cibubur. Itu sekitar 10 tahun yang lalu.

Jadi kemaren itu gue semangat banget. Kemaren itu tanggal 1 Mei 2013. Pagi-pagi emang gue punya niatan lanjutin nulis skripsi. Siangnya gue ada jadwal ngajar di daerah Pejaten. Sorenya gue nonton bioskop bareng sama temen-temen satu angkatan Fisika UI 2009. Agenda sore itu sih yang bikin gue semangat banget. Sementara dua agenda awalnya cuma sekedar memenuhi kaidah berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian.

Ngajar mulai jam 13.30. Gue bilang ke murid kalo gue cuma bisa ngajar sampe jam 3 sore, lantaran bioskop mulai jam 16.10 WIB. Ngajar belum selesai, hujan turun perlahan. Masih ada iramanya. Ngajar selesai, hujan turun deras. Hujannya banyak, butir airnya gede-gede. Jadilah gue nunggu di tempat murid.

Jam 15.49.

"Kok ini hujan ga abis-abis? Ga seru banget."
Gue akhirnya maksain berangkat. Sialnya gue ga bawa jas ujan. Akhirnya kemeja yang gue pake gue masukkin tas, sementara gue cuma pake jaket yang katanya anti air. Jeans dan sepatu gue biarin aja keujanan.

Jam 16.00

"Ya Allah, ngapa lagi ini?!"
Sepanjang jalan macet. Nyalip sana nyalip sini. 10 menit cuma dapet berapa meter. Dan di depan gue mendadak ada danau tadah hujan. Jakarta Selatan banjir. Mobil ga jalan. Gue muter muter nyari jalan lain. Akhirnya bisa ngelewatin banjir. Tapi sepanjang jalan masih macet.

Jam 16.35

"Brrrrr...!!"
Sampai di kota Depok tercinta. Jalanan lengang. Gue ngebut sebisanya dengan jaket, celana jeans, sepatu yang udah basah kuyup macam kain pel. Dengan mulut yang getar-getar lantaran menggigil keras, akhirnya gue sampe di Margo City. Gue masuk mall langsung ke rest room. Ganti kemeja, lanjut ngeringin rambut-celana-sepatu pake hand dryer.

Jam 16.50
Beruntung ada 2 temen yang rela ga masuk bioskop demi nungguin gue dateng. Gue terharu tapi cuma sebentar. Lantas masuk ke theater, dan nonton.

Tetiba gue nggak nyaman. Daleman gue basah.

---

Selesai nonton, kita nggak langsung pulang. Malam itu hujan diluar masih deras. Jadilah kita nongkrong dulu kayak anak mall. Ngobrol, ngemil, cerita-cerita, becanda, main-main. Semuanya seru banget sampe akhirnya jam 10 malem lewat. Hujan belum juga reda, sementara lampu mall udah mati semua.

---

Gue semangat banget sehari kemaren. Soalnya gue gatau kapan lagi bisa kayak gitu. Gue gatau kapan lagi bisa kumpul senang-senang bareng mereka. Mereka yang bareng-bareng gue selama hampir 4 tahun. Mereka itu orang-orang baik. Sebagian polos, sebagian bermotif hitam putih, dan sebagian bercorak warna. Nggak ada orang jahat, ga ada orang yang bandelnya kelewatan.

Kalo orang-orang bilang masa SMA itu masa-masa terbaik, buat gue masa kuliah itu lebih asik. Gue semangat banget sehari kemaren. Gue seneng biarpun sekarang gue kena pilek.




Gue bakal kangen banget sama mereka.

Monday, April 29, 2013

Hal Besar Di Kamar Mandi

Setelah berlari ketakutan dalam gelap, di komplek rumah tua yang jalannya hampir tak berujung, gue menemukan satu cahaya dan keramaian. Gue dekati perlahan kemudian berlari. Terengah gue ketika menyadari itu adalah sebuah konser dangdut.
"Aaahh.. Kenapa jadi ke konser dangdut?!", gue heran.
Merasa tidak tahan, akhirnya gue memutuskan untuk membuka mata. Itulah akhir mimpi gue pagi tadi: terjebak di konser dangdut.

Ternyata di dunia nyata, suaranya berasal dari ruang keluarga. Bokap gue nyetel DVD dangdut keras banget. Kayaknya sengaja bangunin gue yang masih pulas padahal udah jam 9 pagi lewat.
Rejeki gue dipatok ayam. Tapi gapapa, anggap aja sedekah sama ayam.

Gue bangun tidur sesiang itu bukan tanpa alasan. Alasannya adalah karena gue nggak punya alasan untuk bangun pagi. Ya, kayak yang gue bilang ditulisan sebelumnya. Gue ga punya rencana buat hari ini. Sekarang hari senin. Perut gue mules. Akhirnya gue mandi aja sekalian. Gue rasa gue ga perlu ceritain detail mandinya gimana. Hahaa.

Yang mau gue ceritain adalah kemana pikiran gue melayang, sementara badan gue lagi di bersihin. Pikiran gue beranjak ke hari rabu minggu lalu. Dimana kesalahan itu gue buat. Lantas ia pergi melihat isi Draft skripsi gue yang belum juga kelar. Kemudian gue seperti melihat bayang-bayang kalender. Dari situ bisa dihitung bahwa sidang skripsi gue tinggal 1 bulan lagi!.

Pikiran gue kembali ke draft. Enyahkan dulu pikiran negatif tentang kesalahan bodah nan fatal yang gue lakukan. Dan fokus pada perbaikan ke bagian yang bisa diperbaiki, dan improvisasi ke bagian yang masih bisa di-improve.

Akhirnya gue punya rencana. Idenya siap. Stepnya jelas. Timeline pelaksanaannya juga udah kebayang. Semoga bisa terlaksana dan berjalan lancar. Ternyata gue punya alasan untuk bangun pagi.

Deduksi dari cerita gue pagi ini adalah bahwa kamar mandi dan segala isinya itu memang tempat paling inspiratif. Ruangan kecil, air, dan segala ornamennya bikin pikiran plong, bebas. Gue agak menyesal kenapa satu hari kemaren gue nggak mandi. XP


Sunday, April 28, 2013

Perasaan Gue Mendung

Oh, men.. Pagi tadi cerah sekali. Ini minggu pagi, dan memang pagi tadi cerah sekali. Sayangnya perasaan gue nggak demikian. Gue lagi kacau.



Hari rabu, minggu lalu, gue pikir semua bakal berjalan lancar. Semua tugas, semua janji, semua rencana yang gue rencanain berjalan baik. Gue pikir semua bakal berjalan lancar seperti hari-hari sebelum hari rabu. Rabu kemaren itu nggak ada rencana kalo hari minggu ini perasaan gue kacau. Jangan salah sangka, ini pure bukan masalah cinta-cintaan. Amit-amit gue kacau gara-gara masalah begituan (lagi). Ini lebih dari itu. Ini tentang masa depan yang didepan mata.

Hari kamis itu gue potong rambut gue yang gondrong, niatan mau buang sial. Hahaa.. Lucu emang, masih ada aja anggapan kayak gitu. Tapi mau gimana lagi. Gue emang lagi pengen buang sial atas semua rencana yang nggak berjalan semestinya, atas semua kerjaan yang nggak benar. Tapi justru ga ada masalah yang diselesaikan. Ga ada kerjaan yang dikerjain dengan benar. Ternyata gue enggak bisa nyalahin rambut.

Hari jumat kemaren lusa gue semedi di rumah. Seharian gak ke kampus. Barangkali aja bisa ngumpulin puing-puing semangat yang rontok ditimpa kejadian hari rabu kemaren lusanya. Barang kali aja gue bisa menerima maaf dari diri sendiri. Barangkali aja gue bisa menyusun ulang semuanya, kembali berencana, dan kembali melakukannya as well as possible. Alhasil gue cuma semedi di rumah.

Hari sabtu kemarin, gue nggak di rumah. Gue mau lari dari penat. Gue jogging keliling kampus, ngumpul bareng temen, renang (padahal gue gak bisa renang), jajan-jajan (padahal gue gak punya duit), main apa aja, sampe akhirnya gue nggak pulang ke rumah lagi. Itu semua pelarian. Pelarian gue dari penat. Dari rasa lelah yang muncul akibat gue yang nggak ngapa-ngapain. Lelah yang nggak berkeringat. Lelah yang nggak bikin haus.

Sekarang hari minggu. Paginya cerah. Tapi perasaan gue masih mendung. Gue lanjut main-main. Ngelakuin hal yang nggak ada gunanya. Mencari penyenangan atas penyedihan dari semua masalah gue. Gue gatau mesti cerita ke siapa. Dan gue inget blog ini.

Gue masih nggak tau apa rencana gue besok, besok, dan besoknya. Perasaan gue masih mendung.

Monday, December 24, 2012

Jembatan Serong Is Now Changed


Sore kemaren kamar gue gelap banget. Kayaknya sih diluar mendung. Langitnya gelap, awannya ngumpul. Suara air hujan sih emang cuma dikit-dikit, tapi itu udah lebih dari cukup buat menahan gue dalam kamar yang cuma seukuran kamar kostan, yang biaya perbulannya 300 ribu. Sekedar beli indomie goreng cabe ijo sama telor -buat perut gue yang udah teriak-teriak kelaperan- di warung depan rumah aja gue males. Akhirnya gue suruh adek gue, Dita, buat ke warung. Yang disuruh manut-manut aja, asal kembaliannya buat dia. Dasar anak-anak.

Gue, beberapa tahun belakangan, emang jarang banget keluar rumah. Alesannya ada.

Pertama, semenjak gue SMA, gue pisah sama temen-temen rumah gue. Alhasil, seiring berjalannya waktu, kita jadi beda. Beda becandaan, beda mainan, beda pilihan hidup.

Kedua, gue terlalu sibuk sama urusan sekolah dan kuliah gue. Pergi pagi, pulang malem. Malah lebih parah, pergi pagi, pulang malem dihari besoknya. Padahal kuliah gue juga ga rajin-rajin amat.

Ketiga, gue males ditanyain orang-orang sini.
"Lu udah kerja, ya?"
"Kuliahnya belom selesai? Lama amat?"
"Kemana aja lu? Baru keliatan lagi."
"Darimana, di? Pacaran ya?"
Contoh pertanyaan terakhir yang paling bikin males.

Keempat -dan ini yang paling ngebetein-, udah terlalu banyak orang asing di kampung gue. Orang asing maksud gue bukannya bule dari luar negeri. Cuma terlalu banyak orang yang gue ga kenal. Depan rumah gue sekarang ada rumah kecil berisi satu keluarga besar yang kerjaannya berantem tiap hari. Sedikit kedepan ada rumah yang pintunya ga pernah dibuka, yang pemilik rumahnya ga pernah nongol kecuali anjingnya yang berisik minta ampun. Disebelah timur ada satu rumah yang sekarang jadi tempat nongkrong anak-anak 'Vespa Sampah' (sorry, gue gatau istilah yang lebih deskriptif selain ini). Disitu banyak anak-anak muda belia labil ga ada tujuan hidup pada nongkrong, ngeledekin orang, nyanyi2 main gitar, (padahal nada gitar ke Azerbaijan, yang nyanyi malah ke El Salvador). Kadang gue heran kenapa pak RT sini diem aja. Kadang juga gue kepikiran pengen jadi ketua RT. Dan yang paling jelas adalah: jumlah orang gila di kampung gue meningkat.

Rumah gue di Jembatan Serong, Depok. Aneh ya namanya? Gue deskripsiin dikit deh.



Jadi, di Jembatan Serong, dari dulu sampe sekarang gue nulis postingan ini, ada jembatan yang arahnya serong, sederhana. Di bawah jembatan ada sungai (kali) yang lumayan lebah yang airnya ga pernah kering. Sewaktu SD gue sering banget mandi di sungai (kali) itu. Di ujung sungai ada air terjun, yang mirip bendungan. Oke gue boong, itu bendungan yang mirip air tejun. Di sekitar jembatan ga pernah sepi dari pedagang. Boleh dibilang Jembatan Serong ini mirip jalur sutera yang dulu kita pelajarin waktu pelajaran Sejarah. Disini tempat bertemunya saudagar-saudagar pedagang asal Citayem, Bojonggede, dan Sawangan. Mereka bertransaksi, jual beli, hingga terbentuk peradaban disini. Ga heran sebagian besar orang asli sini bekerja sebagai pedagang. Sumpah, ini cerita mirip jalur sutera yang dulu kita pelajarin di pelajaran Sejarah.

Tapi Jembatan Serong sekarang udah berubah. Dan itu membuat gue kadang pengen jadi ketua RW.