"Kol, vakol itu apa si artinya?"
"Vakol itu singkatan ye, kol?"
"Bapa moyang lu orang rusia, kol? Kok nama lo Vakolz?"
Oke kawan, nama asli gue Maryadi. Udah.
Tapi, kayak yang lo tau sekarang, kebanyakan orang manggilnya vakol. Banyak.
Kalo boleh jujur, gue gak tau kenapa nama gue bisa kayak gitu. Nggak tau.
Jadi ga usah nanya macem-macem. Apalagi sampe di-ekstrapolasi, pa untuk pala dan kol untuk kol. Jangan. Plis.
Gue cerita sedikit soal nama deh..
Di SKL, surat kenal lahir (semacam akte tapi bukan akte, karena gue ga punya akte kelahiran), tertera nama gue Maryadi. Jelas tertulis disana gue lahir dimana, tanggal berapa, bokap gue siapa, nyokap gue yang mana. Jelas.
Waktu gue lahir, Bapak sama Ummi itu tadinya mau pergi nonton layar tancep (jangan heran men, ini tahun 90an). Di tengah jalan, perut Ummi mules. Alhasil mereka ga jadi nonton.
"Ahh elah..", kata Bapak.
Pulanglah mereka balik ke rumah. Mereka syok, Ummi udah mau lahiran padahal waktu periksa, kata bidannya masi seminggu dua mingguan lagi. Bidan itu salah.
Gue keluar lebih cepat dari dugaan semua orang.
"Eeeaaa.. Eeaa..", kata Gue.
Oh iya, gue lahir tanpa bidan. Kata ummi gue lahir ke dunia mulus tanpa hambatan. Ga pake susah, ga pake ribet. Bersyukurlah mereka.
Selang berapa hari, baru gue dikasi nama.
"Adi", kata ummi.
"Boleh boleh..", kata bapak.
"Nama panjangnya siapa?", teteh (kakak) gue nanya.
"Hmm..", ummi bingung.
"Maryadi", bapak memberi ide.
"Oia bagus". ummi dan teteh menyetujui.
"Mana panjangnya?", gue ikhlas.
Umur 5 tahun gue mulai memperdebatkan nama gue sama bapak.
"Pak, Maryadi artinya apaan?"
"Bapak ga tau"
"Trus kenapa adi dikasi namanya Maryadi?"
"Iya kan nama bapak Marta, nama teteh Mardiana. Biar sama-sama Mar aja"
"Trus ga ada artinya?"
"Hmm.. kayaknya ga ada"
"Fffffff.."
Itulah kawan, ga semua nama itu punya arti, kadang bokap nyokap kita lebih kreatif dari itu. Kadang nama kita singkatan lah, kadang inisial lah, kadang dimirip-miripin artis lah. Kita cuma bisa terima.
Tapi bersyukurlah, nama nama kita masih manusiawi, beradab, dan layak didengar. Lo bayangin kalo ada orang tua ngasi nama anaknya Jamban Setiawan, atau Yadi Panu, atau Bambang Bengbeng, dan nama-nama lainnya.
Oke, sekarang kenapa Vakolz?
Jujur gue gatau.
Gue dipanggil pakol sejak SD, kelas 4 tepatnya. Sebelum itu gue dipanggil dengan sebutan Bagol. Kurang ajar memang, tapi mau gimana lagi. Nah, semua berubah ketika satu temen manggil gue..
"Pakol.. Pakoool..", dia teriak.
Temen gue si perubah peradaban ini punya satu fakta. Idungnya mampet, suaranya bindeng. Okelah gue maklum. Oia, dia bindeng bukan karena dia pilek. Itu sifat fisisnya, sampe sekarang orangnya masi idup dan ngomongnya masi bindeng. Kalo ga percaya ayo kerumah gue.
Nama pakol akhirnya tenar. SD, SMP, SMA, sampe kuliah gue dipanggil pakol.
Nama gue beberapa kali mengalami amandemen.
Pertama ketika gue masuk SMP, gue selipin huruf H didepan P. Jadilah PHAKOL (inilah fase aL4y). Nama ini berhasil gue abadikan di berbagai tembok di sudut kota depok. Waktu itu jaman-jamannya gue masi bandel. Labil.
Amandemen kedua ketika gue masuk SMA, huruf H gue ilangin (sadar itu tidak baik), dan huruf P gue ganti pake huruf V. Jadilah VAKOL. Masa ini ga begitu lama. Sistem amandemen yang kurang baik memaksa gue untuk melakukan amandemen ketiga.
Gue menambahkan konsonan Z dibagian belakang. Jadilah VAKOLZ. Inilah kenyataan yang lo liat sampe sekarang. Tapi gue seneng dipanggil pakol. Dan faktanya, sampe sekarang gue bingung kalo diajak kenalan sama orang. Gue bingung mau ngenalin diri gue sebagai Maryadi, Vakolz, atau Adi. Kebanyakan sih gue kenalin diri pake Adi, biarlah ke-vakolz-an gue mereka sadari seiring berjalannya waktu. Hehee..








0 komentar:
Post a Comment