Geofisika Universitas Indonesia 2009

Ini temen-temen gue di Geofisika UI. Mereka seru-seru, lucu-lucu. Cuma kalo lagi belajar pada serius banget. Hehee.. Semoga kita semua jadi orang sukses ya temen.. Aamiin :')

Spongebob!

Spongebob itu becandanya cerdas. Lain hal, Spongebob mengajarkan bagaimana cara kita menyukai orang yang membenci, bersahabat dengan orang bodoh, dan mencintai pekerjaannya. :)

Lembah Anai

Ini gue bareng tim survey geolistrik dari Pusat Sumber Daya Geologi. Abis survey sebulanan di daerah Sumatera Barat, kita refreshing bentar. Jadi tau padang itu kayak gimana :)

Azkiya Ulya

Bayi ini yang bakal manggil gue 'Oom'. Setiap pagi sebelum ngampus, gangguin Azkia itu wajib. Bodo amat walaupun harus jadi telat kuliahnya :D

Orkestra HMD Fisika 2011

Ini Orkestra angkatan pertama. Mereka itu luar biasa. Kalo diinget-inget, bikin rindu.

Monday, December 24, 2012

Jembatan Serong Is Now Changed


Sore kemaren kamar gue gelap banget. Kayaknya sih diluar mendung. Langitnya gelap, awannya ngumpul. Suara air hujan sih emang cuma dikit-dikit, tapi itu udah lebih dari cukup buat menahan gue dalam kamar yang cuma seukuran kamar kostan, yang biaya perbulannya 300 ribu. Sekedar beli indomie goreng cabe ijo sama telor -buat perut gue yang udah teriak-teriak kelaperan- di warung depan rumah aja gue males. Akhirnya gue suruh adek gue, Dita, buat ke warung. Yang disuruh manut-manut aja, asal kembaliannya buat dia. Dasar anak-anak.

Gue, beberapa tahun belakangan, emang jarang banget keluar rumah. Alesannya ada.

Pertama, semenjak gue SMA, gue pisah sama temen-temen rumah gue. Alhasil, seiring berjalannya waktu, kita jadi beda. Beda becandaan, beda mainan, beda pilihan hidup.

Kedua, gue terlalu sibuk sama urusan sekolah dan kuliah gue. Pergi pagi, pulang malem. Malah lebih parah, pergi pagi, pulang malem dihari besoknya. Padahal kuliah gue juga ga rajin-rajin amat.

Ketiga, gue males ditanyain orang-orang sini.
"Lu udah kerja, ya?"
"Kuliahnya belom selesai? Lama amat?"
"Kemana aja lu? Baru keliatan lagi."
"Darimana, di? Pacaran ya?"
Contoh pertanyaan terakhir yang paling bikin males.

Keempat -dan ini yang paling ngebetein-, udah terlalu banyak orang asing di kampung gue. Orang asing maksud gue bukannya bule dari luar negeri. Cuma terlalu banyak orang yang gue ga kenal. Depan rumah gue sekarang ada rumah kecil berisi satu keluarga besar yang kerjaannya berantem tiap hari. Sedikit kedepan ada rumah yang pintunya ga pernah dibuka, yang pemilik rumahnya ga pernah nongol kecuali anjingnya yang berisik minta ampun. Disebelah timur ada satu rumah yang sekarang jadi tempat nongkrong anak-anak 'Vespa Sampah' (sorry, gue gatau istilah yang lebih deskriptif selain ini). Disitu banyak anak-anak muda belia labil ga ada tujuan hidup pada nongkrong, ngeledekin orang, nyanyi2 main gitar, (padahal nada gitar ke Azerbaijan, yang nyanyi malah ke El Salvador). Kadang gue heran kenapa pak RT sini diem aja. Kadang juga gue kepikiran pengen jadi ketua RT. Dan yang paling jelas adalah: jumlah orang gila di kampung gue meningkat.

Rumah gue di Jembatan Serong, Depok. Aneh ya namanya? Gue deskripsiin dikit deh.



Jadi, di Jembatan Serong, dari dulu sampe sekarang gue nulis postingan ini, ada jembatan yang arahnya serong, sederhana. Di bawah jembatan ada sungai (kali) yang lumayan lebah yang airnya ga pernah kering. Sewaktu SD gue sering banget mandi di sungai (kali) itu. Di ujung sungai ada air terjun, yang mirip bendungan. Oke gue boong, itu bendungan yang mirip air tejun. Di sekitar jembatan ga pernah sepi dari pedagang. Boleh dibilang Jembatan Serong ini mirip jalur sutera yang dulu kita pelajarin waktu pelajaran Sejarah. Disini tempat bertemunya saudagar-saudagar pedagang asal Citayem, Bojonggede, dan Sawangan. Mereka bertransaksi, jual beli, hingga terbentuk peradaban disini. Ga heran sebagian besar orang asli sini bekerja sebagai pedagang. Sumpah, ini cerita mirip jalur sutera yang dulu kita pelajarin di pelajaran Sejarah.

Tapi Jembatan Serong sekarang udah berubah. Dan itu membuat gue kadang pengen jadi ketua RW.

Cita-cita


Waktu gue kecil dulu, ada anak kecil yang badannya kecil, yang tangan sama kakinya juga kecil. Satu waktu, ia ditanya sama gurunya tentang cita-citanya. Hari itu pelajaran Bahasa Indonesia. Dengan polosnya anak kecil itu menjawab, "Mau jadi ABRI, Bu..!". Ibu guru berbadan besar itu tertawa kecil. Sementara teman-temannya yang kecil itu tertawa besar.

Gue kalo inget itu juga suka ketawa sendiri. Ya, anak kecil itu gue. Maryadi kecil itu pengen banget jadi bagian dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, lantaran dia sering banget dengerin cerita tentara dari Alm. Si Engkong, tetangga gue yang seorang veteran perang kemerdekaan. Now I miss him so much.

Tapi itu dulu. Sekarang gue lebih realistis. Gue sadar, kalopun gue daftar jadi tentara, gue udah ditolak dari sejak gue ngisi formulir. Sekarang gue lebih realistis. Kenyataannya, Maryadi kecil itu emang badannya kecil, tapi otaknya. Waktu SD, ia ga pernah absen dapet ranking pertama. Waktu SMP, nilai Ujian Nasionalnya paling tinggi satu sekolah. Bukannya sombong, gue cuma mau mengarahkan pada satu kesimpulan yang akhirnya gue ambil. Otot gue sulit diharapkan, tinggal Otak yang mesti dimaksimalkan.

Cita-cita gue: Professor.

Tapi kalo dipikir-pikir lagi. Otak gue sekarang udah biasa aja. Biasa banget malah. Dan kalo mau ikutin kemajuan jaman, gue bisa bilang: "Itu bukan passion gue". Gue justru lebih tertarik sama hal-hal artistik, berbau seni dan kesenian. Oia, selain hal-hal akademis yang sebelumnya udah gue sebutin, Maryadi kecil juga punya kenangan manis sama dunia seni. Doi berapa kali juara lomba nyanyi, lomba band, berapa kali ngisi acara off air. Satu hal, gatau kenapa dan gimana, gue itu termasuk cepet bisa mainin alat musik, padahal gue ga pernah kursus musik, punya alatnya aja nggak. Bukannya mau sombong, gue cuma mau mengarahkan pada satu kesimpulan yang akhirnya gue ambil. Otak kiri gue biasa aja, tinggal otak kanan yang mesti dimaksimalkan.

Cita-cita gue: Music Composer.

Liat kenyataan yang ada, gue minder. Pasalnya umur gue udah 21 tahun, tapi kemampuan gue main musik ga juga nambah, masih kayak anak SMA. Terlalu banyak orang yang lebih jago, lebih pantes jadi komposer musik. Lantas gue gali tanah, gue kubur dalem dalem tuh impian jadi komposer.

Sekarang let it flow aja lah. Gue kuliah di jurusan Fisika, bidang peminatan Geofisika. Semoga gue bisa survive disini. Cita-cita sekarang lebih kepada apa yang mau gue lakukan dalam jangka waktu yang nggak terlalu lama. Sekarang ini, gue punya keinginan: Enam bulan lagi gue pengen lulus kuliah, dan diterima kerja di Chevron Pacific Indonesia. Namun begitu, gue masih punya satu cita-cita jangka panjang.

Cita-cita gue: Walikota Depok.

Biar gimanapun semua masih cita-cita. Masih terus menggantung di langit. Gue masih harus usaha lebih keras biar bisa lompat lebih tinggi. Biar cita-cita gue ga cuma menggantung di langit.

Oh iya, ada satu hal yang ga pernah lepas dari pikiran. Gue pengen pergi Haji bareng Ummi sama Bapak.

Latar Belakang

Hujan sore tadi cuman sedikit. Sekedar membasahi dedaunan, terus jatuh ke tanah di kaki pohon. Angin pun hanya sederhana mengalun. Semaunya. Belum terlalu kuat buat menceraikan daun dari tangkainya. Lemah, kayaknya dia udah lelah bertiup sepanjang hari.

Hari itu hari minggu. Hari dimana semua rasa malas berkumpul jadi satu. Dimana semangat lebih sedikit dari biasanya. Mata lebih berat dari biasanya. Kaki yang lebih kaku dari biasanya. Dan upil lebih banyak dari biasanya. Sehingga ngupil lebih sering dari biasanya. Yang menyebabkan kamar lebih kotor dari biasanya. Jorok sekali.

Tapi justru upil itulah yang jadi latar belakang munculnya blog aneh ini.

Gue pikir daripada gue sering-sering ngupil, terus lobang idung gue tambah gede, terus bukan upilnya yang abis tapi malah idung gue yang infeksi, mendingan gue nulis sesuatu. Itung-itung mempergunakan jari-jari ini untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Itu.

Awalnya gue ga yakin bisa nulis blog. Dan ternyata keraguan gue benar adanya. Sejarah membuktikan bahwa blog ini idup mati idup mati mati mati idup mati mati idup. Lebih banyak matinya daripada idupnya. Kasian dia punya author kayak gue. Tapi gue udah bertekad, gue mau nulis lagi, tentang apa aja. Mulai dari cerita sehari-hari, puisi, lagu, pelajaran, jampi-jampi, pokoknya random deh. Apa aja asal gue bisa nulis. Apa aja asal telunjuk gue nggak mengarah ke lobang idung.

Nah, kenapa namanya Mimpi Selangit? Jadi gue itu sering banget tidur, sering banget mimpi. Gatau kenapa mimpi gue itu seru-seru. Kadang mimpi jalan-jalan, mimpi berantem, mimpi nikah, kawin, mimpi naik elang, mimpi jadi sopir, dan banyak lagi. Pokoknya di mimpi itu gue bisa ngapain aja, ngelakuin apa aja, jadi apa aja semau gue, terserah.



G
ue pernah mimpi naik pohon, pohon yang daunnya lebat, tangkai sama rantingnya kuat, akarnya kokoh, dan pohonnya terus tumbuh sampe setinggi langit. Gue suka mimpi itu. Seru.
Pengennya sih blog ini juga bisa seru. Seseru mimpi-mimpi gue, seseru khayalan gue yang setinggi langit. :)

Sumpah, Beda!



Satu kenyataan yang paling menyedihkan adalah Maryadi dengan Vakolz itu beda.
Satu kenyataan yang aneh, tapi ini benar.
Satu kenyataan yang sampe sekarang masih belum bisa gue ngerti.
Satu kenyataan yang nggak begitu bagus.
Satu kenyataan yang dianggap tabu, tapi layak dan patut untuk diperbincangkan.



Kadang mereka bersitegang, dan ini seringkali gue jadiin status di fesbuk.

vakolz : gue ga bisa!
maryadi : lo pasti bisa, kol!
vakolz : gue lebih tau lah kemampuan gue!
maryadi : gue kan elo!
_________________________________________

maryadi : tuhkan lo salah milih lagi!
vakolz : lo yg kelamaan mikirnya!
maryadi : huu..
vakolz : kita ikhlas aje ye?
_________________________________________

vakolz : alhamdulillah..
maryadi : nah, gitu dooong! :)
vakolz : sekarang tenang hati gue.
maryadi : gue juga nih..
_________________________________________

maryadi : lanjutin!
vakolz : nggak!
maryadi : setidaknya dia melihat usaha lo..
vakolz : dia liat pun percuma, men!
_________________________________________

maryadi : heh! kalo begini namanya apa?!
vakolz : udah diem aje ah..
maryadi : ini namanya "dipermainkan"!
vakolz : bodo! gue suka permainan.. :)
_________________________________________

vakolz: ini bisa lebih buruk?
maryadi: pasti.
vakolz: bisa jadi baik lagi?
maryadi: mustahil.
vakolz: sompret!!
_________________________________________

vakolz: dia cakep ya.. :)
maryadi: cakepan Ayu Tingting.
vakolz: iya sih.. hahaa.
maryadi: aahh.. lemah!
_________________________________________

vakolz: semalem gue 1 jam on air di MStri fm dong!
maryadi: trus lo ngomong apa?
vakolz: promosi PRF laah!
maryadi: kenapa ga nyari jodoh sekalian?!
_________________________________________

maryadi: semangat, kol..
vakolz: semangat juga, di..
maryadi: :')
_________________________________________

Gue ga bisa jelasin, yang jelas mereka itu beda. Udah percaya aja deh sama gue.
Ni gue lagi jadi maryadi, makanya rajin nulis ginian. Kalo si vakolz mah kerjaannye maen doang. Ssssttt.. Tapi jangan bilang-bilang dia ye.

Sejarah Gila


"Kol, vakol itu apa si artinya?"
"Vakol itu singkatan ye, kol?"
"Bapa moyang lu orang rusia, kol? Kok nama lo Vakolz?"

Oke kawan, nama asli gue Maryadi. Udah.
Tapi, kayak yang lo tau sekarang, kebanyakan orang manggilnya vakol. Banyak.
Kalo boleh jujur, gue gak tau kenapa nama gue bisa kayak gitu. Nggak tau.
Jadi ga usah nanya macem-macem. Apalagi sampe di-ekstrapolasi, pa untuk pala dan kol untuk kol. Jangan. Plis.

Gue cerita sedikit soal nama deh..
Di SKL, surat kenal lahir (semacam akte tapi bukan akte, karena gue ga punya akte kelahiran), tertera nama gue Maryadi. Jelas tertulis disana gue lahir dimana, tanggal berapa, bokap gue siapa, nyokap gue yang mana. Jelas.
Waktu gue lahir, Bapak sama Ummi itu tadinya mau pergi nonton layar tancep (jangan heran men, ini tahun 90an). Di tengah jalan, perut Ummi mules. Alhasil mereka ga jadi nonton.
"Ahh elah..", kata Bapak.
Pulanglah mereka balik ke rumah. Mereka syok, Ummi udah mau lahiran padahal waktu periksa, kata bidannya masi seminggu dua mingguan lagi. Bidan itu salah.
Gue keluar lebih cepat dari dugaan semua orang.
"Eeeaaa.. Eeaa..", kata Gue.
Oh iya, gue lahir tanpa bidan. Kata ummi gue lahir ke dunia mulus tanpa hambatan. Ga pake susah, ga pake ribet. Bersyukurlah mereka.
Selang berapa hari, baru gue dikasi nama.
"Adi", kata ummi.
"Boleh boleh..", kata bapak.
"Nama panjangnya siapa?", teteh (kakak) gue nanya.
"Hmm..", ummi bingung.
"Maryadi", bapak memberi ide.
"Oia bagus". ummi dan teteh menyetujui.
"Mana panjangnya?", gue ikhlas.
Umur 5 tahun gue mulai memperdebatkan nama gue sama bapak.
"Pak, Maryadi artinya apaan?"
"Bapak ga tau"
"Trus kenapa adi dikasi namanya Maryadi?"
"Iya kan nama bapak Marta, nama teteh Mardiana. Biar sama-sama Mar aja"
"Trus ga ada artinya?"
"Hmm.. kayaknya ga ada"
"Fffffff.."

Itulah kawan, ga semua nama itu punya arti, kadang bokap nyokap kita lebih kreatif dari itu. Kadang nama kita singkatan lah, kadang inisial lah, kadang dimirip-miripin artis lah. Kita cuma bisa terima.
Tapi bersyukurlah, nama nama kita masih manusiawi, beradab, dan layak didengar. Lo bayangin kalo ada orang tua ngasi nama anaknya Jamban Setiawan, atau Yadi Panu, atau Bambang Bengbeng, dan nama-nama lainnya.



Oke, sekarang kenapa Vakolz?
Jujur gue gatau.
Gue dipanggil pakol sejak SD, kelas 4 tepatnya. Sebelum itu gue dipanggil dengan sebutan Bagol. Kurang ajar memang, tapi mau gimana lagi. Nah, semua berubah ketika satu temen manggil gue..
"Pakol.. Pakoool..", dia teriak.
Temen gue si perubah peradaban ini punya satu fakta. Idungnya mampet, suaranya bindeng. Okelah gue maklum. Oia, dia bindeng bukan karena dia pilek. Itu sifat fisisnya, sampe sekarang orangnya masi idup dan ngomongnya masi bindeng. Kalo ga percaya ayo kerumah gue.
Nama pakol akhirnya tenar. SD, SMP, SMA, sampe kuliah gue dipanggil pakol.
Nama gue beberapa kali mengalami amandemen.
Pertama ketika gue masuk SMP, gue selipin huruf H didepan P. Jadilah PHAKOL (inilah fase aL4y). Nama ini berhasil gue abadikan di berbagai tembok di sudut kota depok. Waktu itu jaman-jamannya gue masi bandel. Labil.
Amandemen kedua ketika gue masuk SMA, huruf H gue ilangin (sadar itu tidak baik), dan huruf P gue ganti pake huruf V. Jadilah VAKOL. Masa ini ga begitu lama. Sistem amandemen yang kurang baik memaksa gue untuk melakukan amandemen ketiga.
Gue menambahkan konsonan Z dibagian belakang. Jadilah VAKOLZ. Inilah kenyataan yang lo liat sampe sekarang. Tapi gue seneng dipanggil pakol. Dan faktanya, sampe sekarang gue bingung kalo diajak kenalan sama orang. Gue bingung mau ngenalin diri gue sebagai Maryadi, Vakolz, atau Adi. Kebanyakan sih gue kenalin diri pake Adi, biarlah ke-vakolz-an gue mereka sadari seiring berjalannya waktu. Hehee..